Situasi ini lazim terjadi di rumah sakit swasta, klinik, dan rumah sakit milik amal usaha. Rumah sakitnya sehat, pasien ramai, tapi saat mengajukan kredit untuk gedung baru atau alat medis, bank meminta laporan keuangan audited dua sampai tiga tahun terakhir. Sementara itu, laporan keuangan belum pernah diaudit sama sekali.
Kenapa Bank Meminta Laporan Audited
Untuk plafon menengah ke atas, analis kredit perlu angka yang sudah diuji pihak independen. Laporan audited dipakai untuk menghitung kemampuan bayar, membaca arus kas, dan menilai kualitas piutang. Tanpa itu, pengajuan biasanya berhenti di tahap awal atau plafonnya dipangkas.
Masalah yang Paling Sering Muncul di Audit Pertama
- Saldo awal belum jelas. Auditor perlu meyakini saldo awal kas, piutang, aset tetap, dan utang. Kalau tahun-tahun sebelumnya belum rapi, saldo awal harus disusun ulang lebih dulu.
- Piutang BPJS. Klaim pending, klaim dispute, dan klaim yang sudah lewat masa pengajuan sering tercampur. Perlu daftar umur piutang yang bisa ditelusuri ke data klaim.
- Aset tetap dan alat medis. Banyak rumah sakit tidak punya daftar aset yang lengkap. Padahal aset tetap biasanya pos terbesar di neraca.
- Pendapatan dan jasa dokter. Pembagian jasa medis harus tercatat konsisten supaya beban dan utang jasa dokter wajar.
Urutan Kerja yang Biasanya Paling Cepat
- Tetapkan tahun buku yang diminta bank dan tenggatnya.
- Rapikan dan susun ulang laporan keuangan sesuai standar akuntansi yang berlaku, termasuk saldo awal.
- Siapkan daftar aset tetap, rincian piutang BPJS dan asuransi, serta rekonsiliasi bank.
- Tunjuk KAP yang terbiasa mengaudit rumah sakit, supaya pertanyaan auditor tidak berputar-putar.
- Setelah laporan audited terbit, siapkan proyeksi keuangan dan dokumen agunan untuk bank.
Satu Catatan Penting
Pihak yang menyusun laporan keuangan sebaiknya bukan KAP yang sama dengan yang mengaudit. Ini menjaga independensi auditor, dan bank juga lebih nyaman dengan pemisahan seperti itu.